Contoh Dalam Kehidupan “Kecerdasan Sosial Dapat Dilihat dari Seberapa Banyak Temanmu!”

Image

source : google.com

 

Kita tentunya sudah melewati berbagai proses menuju kedewasaan dan mengalami berbagai peristiwa penting dalam hidup sampai pada detik ini, semakin bertambah umur, semakin bertambah pula orang – orang yang telah kita temui,  kita mulai bercerita dari fase pergaulan di sekolah mulai dari masuk TK kita tentu punya banyak teman disana teman TK pasti hanya sebatas tetangga, banyak yang kita kenal, meskipun pasti lupa detilnya siapa, tapi pasti ada salah satu anak yang diingat dan menonjol, lalu berpindah ke SD, selama 6 tahun di SD tentunya tidak membuat kita lupa akan orang – orang yang kita kenal disana, bahkan ada yang bisa menjalin persahabatan hingga sekarang (seperti yang saya alami) selama di SD pun pasti mulai terlihat beberapa karakter anak, dari mulai yang pendiam, tidak banyak bicara, sampai pada anak yang sangat pandai bergaul sehingga bisa menjadi pemimpin dan diikuti teman – teman lainnya. Saya termasuk yang memiliki kecerdasan sosial kurang, tidak tahu kenapa dulu rasanya malu untuk memulai percakapan dengan orang lain pun. Berlanjut ke tingkat yang lebih tinggi, Sekolah Menengah Pertama (SMP) saya tetap menjadi anak yang kurang PD untuk berbicara pada banyak orang, beruntungnya saya selalu memiliki teman yang kecerdasan sosialnya lebih tinggi, hal ini cukup membantu daya dalam berinteraksi dengan orang banyak. Saya cenderung enggan bergabung dengan sebuah club atau ekstrakulikuler, saya lebih senang diam di rumah dan belajar, saya juga lebih senang pekerjaan individu dibanding pekerjaan kelompok, memang pada saat itu prestasi saya bisa dikatakan sangat baik, sehingga saya kurang bisa menyempatkan waktu untuk sekedar bermain bersama teman, mungkin kebiasaan itu yang membuat saya menjadi lebih senang melakukan sesuatu sendirian. Memasuki bangku putih – abu, saya mulai merasa kalau saya butuh teman, saya mulai belajar membuka diri kepada orang lain, berusaha bersikap supple dan tidak mementingkan ego. Mulai mencoba berorganisasi, karena saya sadar, manusia sehebat apapun tidak akan mampu melakukan apapun sendirian. Sekarang saya jauh dari orang tua, tentunya semakin menuntut saya untuk berani berinteraksi dengan orang – orang baru, dengan daerah baru, kebiasaan baru, dan tentunya status baru sebagai mahasiswa keperawatan yang dituntut lebih banyak berinteraksi dengan orang lain, khususnya nanti di lapangan. Dari pengalaman saya, bisa dilihat bahwa setiap tempat itu pasti memiliki 1 orang yang memiliki kecerdasan sosial tinggi, orang tersebut biasanya memiliki banyak relasi karena kemudahan dan keluwesannya dalam bergaul. Kecerdasan Sosial adalah kemampuan yang berhubungan dengan kemampuan seseorang untuk :

  • Menjalin hubungan baru dengan orang lain
  • Menjaga dan mempertahankan hubungan harmonis dengan orang lain
  • Mengetahui permasalahan dengan sudut pandang orang lain (emapati)
  • Menjalin kerja sama dengan orang lain
  • Mempengaruhi pendapat dan tindakan orang lain
  • Menginterprestasikan mood atau masalah orang lain dari bahasa tubuhnya

Kebanyakan orang yang memiliki kecerdasan sosial tinggi akan memiliki pekerjaan yang selalu berhubungan dengan orang lain, karen menurut riset iseng – iseng yang sudah saya lakukan, saya bertanya kepada teman – teman saya yang saya anggap memiliki kecerdasan sosial lebih, pekerjaan apa yang mereka inginkan kelak, kebanyakan menjawab pekerjaan – pekerjaan yang sangat sering berinteraksi dengan orang lain, seperti public relation, politikus, dst. 

Berikut ini ada beberapa tips bagi, anda dan saya tentunya untuk meningkatkan kecerdasan sosial :

  • Murah senyum. Senyum adalah bahasa universal yang paling efektif, mudah dan murah. Dengan tersenyum (secara tulus) Anda sudah memberitahu lawan bicara bahwa Anda menyukai mereka. Biasanya mereka akan menanggapi Anda secara positif juga.
  • Belajarlah untuk lebih banyak mendengarkan daripada berbicara. Ingat, Tuhan memberi kita dua telinga dan satu mulut. Maksudnya kita harus lebih sering mendengarkan daripada berbicara. Saat kita mendengarkan, saat itu pula kita sedang belajar. Demikian kata seorang filsuf terkenal.
  • Belajarlah untuk mengenali bahasa tubuh seseorang dalam berkomunikasi. BukuBody Language karangan Allan Pease dapat dijadikan acuan yang bagus. Berusahalah menebak apa pikiran dan perasaan lawan bicara Anda berdasarkan petunjuk bahasa tubuhnya, lalu periksa kebenarannya dengan menanyakannya langsung.
  • Carilah teman diskusi atau sparring partner untuk membantu memecahkan masalah Anda. Otak Anda biasanya akan terpicu menjadi lebih kreatif apabila ada “lawan main” dalam diskusi Anda
  • Luangkan waktu lebih banyak dengan keluarga sendiri baik secara kualitas maupun kuantitas
  • Temukan kesamaan minat atau hobi dengan orang lain di sekitar Anda, lalu coba bentuk komunitasnya

Mempelajari kecerdasan sosial tidak akan pernah terlambat, mulai sekarang mari rubah kebiasaan kita dalam bersosialisasi, tentunya akan semakin membuat kita menjadi pribadi yang dikenal dengan baik 🙂

Reference : Sutanto Windura, pendiri dan direktur The Brainic® Insitute dan Brainic® Smart Learning. http://www.brainicsmart.com/

 

Regard, 

Image

Kecerdasan Sosial, Faktor Utama Kesuksesan Seseorang di Masyarakat

Social_Intelligence

Source : google.com

 Manusia hidup di dunia ini tentunya memerlukan interaksi dengan manusia lainnya. Proses interaksi ini kita kenal dengan hubungan sosial. Hubungan sosial sudah kita dapatkan sejak kitapertama kali lahir ke dunia ini, maka faktor pembentuk kecerdasan seseorang adalah keluarga. Dewasa ini kecerdasan sosial mulai di anggap penting oleh masyarakat awam hal ini ditunjukkan dengan maraknya trend pelatihan – pelatihan Public Speaking, dll. Namun kembali pada hakikatnya tidak semua orang dapat dengan mudah melakukan hubungan sosial, karena masing – masing pribadi manusia memiliki keunikan tersendiri. Seperti yang telah diungkapkan oleh Carl Gustav Jung ( 1875 – 1961 ), ia membagi beberapa tipe kepribadian diantaranya sebagai berikut :

1. Tipe Introvert, yaitu orang dengan kepribadian yang cenderung untuk menarik diri dan menyendiri, terutama dalam keadaan emosional, sedang menghadapi masalah atau konflik. Ia pemalu dan lebih suka menyendiri daripada bergabung dengan orang banyak.

2. Tipe Ekstrovert, tipe ini merupakan kebalikan dari tipe intovert. orang tipe ini dalam keadaan tertekan justru akan  menggabungkan diri dengan orang banyak, sehingga bebannya berkurang. Ia peramah dan memiliki pekerjaan – pekerjaan seperti pedagang, pekerja sosial, juru bicara, dan pekerjaan – pekerjaan lain yang melibatkan orang banyak.

3. Tipe Ambivert, tipe ini merupakan campuran dari kedua tipe diatas, tekadang bisa menjadi introvert, dan kadang menjadi ekstrovert.

Kembali membicarakan kecerdasan sosial, menurut Buzan kecerdasan sosial adalah ukuran kemampuan diri seseorang dalam pergaulan di masyarakat dan kemampuan berinteraksi sosial dengan orang-orang di sekeliling atau sekitarnya. 

Dari pengertian diatas dapat diketahui bahwa kecerdasan sosial sangan bergantung pada lingkugan dimana seorang individu dibesarkan. Orang yang memiliki kecerdasan sosial yang tinggi tidak akan menemui kesulitan saat akan bersosialisasi atau memulai berinteraksi dengan orang lain khususnya yang baru dikenal. Kebanyakan orang yang memiliki kecerdasan sosial yang tinggi memiliki IQ yang tinggi pula namun sebaliknya, IQ tinggi belum menjamin bahwa seseorang tersebut memiliki kecerdasan sosial yang tinggi.

Kecerdasan sosial dibangun antara lain atas kemampuan inti untuk mengenali perbedaan, secara khusus perbedaan besar dalam suasana hati, temperamen, motivasi dan kehendak. Dengan kata lainnya seseorang yang memiliki kecerdasan sosial yang tinggi tentunya memiliki rasa sosial yang tinggi sehingga memungkinkan untuk membaca kehendak dan keinginan orang lain, bahkan ketika keinginan itu disembunyikan. Beberapa hal yang menunjukan kecerdasan sosial seseorang adalah kemampuan bernegosiasi, kemampuan mengatasi konflik, dan segala permasalahan didalamnya.

Kecerdasan Sosial mempunyai komponen dan indikatornya tersendiri, yaitu sebagai berikut :

A. Komponen Internal

– Keinginan untuk bersosialisasi dari dalam diri

– Menjalin hubungan yang baik dengan orang lain

– Mengorbankan Kepentingan diri demi orang lain

B. Komponen Eksternal

– Adanya pengaruh untuk bersosialisasi

– Menyeleseikan permasalahan dalam bersosialisasi

– Ada alasan lain dalam melakukan hubungan sosial, seperti ingin mendapat sanjungan, dll.

Betapa pentingnya kecerdasan sosial dalam perkembangan anak hingga dewasa, karena apabila seorang anak  memiliki kecerdasan sosial yang kurang maka dengan mudah anak tersebut akan melakukan tindakan yang anarkis selama perkembangannya menuju dewasa, hal ini dikarenakan orang yang memiliki kecerdasan sosial yang kurang tidak akan mampu berbagi dengan orang lain dan akan merasa menang sendiri. Apabila orang tersebut menginginkan sesuatu, ia akan melakukan apa saja tanpa mempedulikan lingkungan disekitarnya, asalkan tujuannya tercapai.

Dalam mencegah hal itu ada beberapa cara yang bisa dimulai dari dalam diri kita sendiri untuk meningkatkan kecerdasan sosial :

1. Berlatihlah berkomunikasi dengan baik, berusaha menjadi pendengar bagi orang lain, ciptakan suasana nyaman saat orang lain berkomunikasi dengan anda, sehingga anda akan dengan mudah mendapat penilaian yang baik dimata orang lain. Perlu dipelajari pula bagaimana sikap tubuh yang baik saat berkomunikasi.

2. Bersikap ramah, dan percaya diri, percayalah semua orang memiliki kemampuan yang berbeda – beda, tetap percaya bahwa diri anda memiliki kelebihan dan anda unik.

3. Berhenti mementingkan diri sendiri, karena kita tidak dapat hidup sendiri di dunia ini, jangan mementingkan keinginan dan ego.

Dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa sosial intelligence atau kecerdasan sosial merupakan faktor penentu keberhasilan seseorang dalam kehidupan bermasyarakat.

Ingatlah “Keeping friends is more important than getting your way” 🙂

Thanks for reading 🙂

Reference :

Hurlock, Elizabeth. Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Diterjemahkan oleh Istiwidayanti dan Soedjarwo. Jakarta: Erlangga, 1980.

Sarwono, Sarlito. Pengantar Psikologi Umum. Jakarta: Rajawali Pers, 2009

7233B27CBBEC653F1B8EB06F3E79CD3F